Zakat Perusahaan, Perdagangan dan Jasa


Ilustrasi oleh Fuad Hasim

Hukum mengeluarkan zakat adalah wajib, berdasarkan al-Qurān, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Allah SWT berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah sholat, serta tunaikanlah zakat, serta sujudlah kamu bersama-sama dengan orang yang menjalankan.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Di dalam Tafsir Ibnu Al-Thabary, ayat ini mendapatkan dukungan riwayat tafsir dari Qatadah radliyallahu ‘anhu:

كما حُدِّثت عن عمار بن الحسن، قال: حدّثنا ابن أبي جعفر، عن أبيه، عن قتادة، في قوله قال: فريضتان واجبتان، فأدُّوهما إلى الله

Ammar bin al-Hasan berkata: Abu Ja’far berkata: dari bapaknya, dari Qatadah dalam menjelaskan maksud ayat dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Qatadah berkata: “Keduanya adalah amal wajib. Maka tunaikan keduanya untuk hak Allah!” (Lihat Muhammad Ibnu Jarir At-Thabary, Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, [Kairo: Dār al-Ma’ārif, tt], juz I, 573)

Ada dua jenis zakat dalam Islam, yaitu Zakat Fitrah dan Zakat Maal. Zakat perusahaan, perdagangan dan jasa masuk dalam kategori Zakat Maal. Definisi Zakat Maal sendiri dalam al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Juz 4, hal. 2875, al-māl sebagai berikut:

كل مايقتنى ويحوزه الإنسان بالفعل سواء أكان عيناً أم منفعة، كذهب أو فضة أو حيوان أو نبات أو منافع الشيء كالركوب واللبس والسكنى

“Segala sesuatu yang dapat mendatangkan ketenangan, dan bisa dikuasai oleh manusia dengan suatu usaha (fi’il), baik sesuatu itu berupa dzat (materi) maupun berupa manfaat, seperti emas, perak, hewan, tumbuhan atau manfaaat suatu aset, seperti kendaraan, pakaian, dan tempat tinggal.” (Al-Zuhaily, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Juz, Maktabah Syamilah, hal. 40 )

Berdasarkan definisi di atas, suatu barang disebut sebagai al-maāl, jika memenuhi dua kriteria;

  1. Sesuatu itu harus bisa memenuhi kebutuhan manusia, hingga pada akhirnya bisa mendatangkan kepuasan dan ketenangan atas terpenuhinya kebutuhan tersebut, baik bersifat materi atau immateri
  2. Sesuatu itu harus berada dalam genggaman kepemilikan manusia. Konsekuensinya, jika tidak bisa atau belum dimiliki, maka tidak bisa dikatakan sebagai harta. Misalnya, burung yang terbang diangkasa, ikan yang berada di lautan, bahan tambang yang berada di perut bumi, dan lainnya.

Terdapat beberapa syarat harta yang wajib dizakati, antara lain:

1. Telah mencapai nishab
2. Merupakan hak milik secara sempurna
3. Telah mencapai satu tahun (haul) dalam pengelolaan
4. Terdiri atas harta yang berkembang (maal mustafad)
5. Melebihi kebutuhan pokok
6. Terbebas dari hutang

Adapun syarat dari zakat perdagangan/perniagaan (‘arudl al-tijārah) adalah sebagai berikut:

  • Muzakki (orang yang berzakat) harus menjadi pemilik komoditas yang diperjualbelikan, baik kepemilikannya itu diperoleh dari hasil usaha dagang maupun tidak, seperti kepemilikan yang didapat dari warisan dan hadiah.
  • Muzakki berniat untuk memperdagangkan komoditas tersebut.
  • Harta zakat mencapai nisab setelah dikurangi biaya operasional, kebutuhan primer, dan membayar utang.
  • Kepemilikan telah melewati masa satu tahun penuh.

Para ulama kontemporer menganalogikan zakat perusahaan dengan zakat perniagaan. Sebab, bila dilihat dari aspek legal dan ekonomi (entitas), aktivitas sebuah perusahaan pada umumnya berporos pada kegiatan perdagangan. Dengan demikian, setiap perusahaan di bidang barang maupun jasa dapat menjadi objek wajib zakat.

Jenis Harta dan Ketentuan Wajib Zakat
(sesuai Instruksi Menteri Agama RI, nomor 5 Tahun 1991)

1. Industri seperti semen, pupuk, tekstil, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

2. Usaha perhotelan, hiburan, restoran dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

3. Perdagangan ekspor, kontraktor, real estate, percetakan / supermarket, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

4. Jasa; konsultan, notaris, komisioner, travel biro, salon, trasportasi, perdagangan, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

5. Pendapatan gaji, honorarium jasa produksi lembur, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

6. Usaha perkebunan, perikanan dan peternakan besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

7. Uang simpanan, Deposito, Tabanas, Taska, Simpeda, Simaskot, Tahapan, Giro, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

Tabel Ketentuan Wajib Zakat Maal oleh NU Care LAZISNU

Contoh Penghitungan Zakat

Sebuah perusahaan meubel pada saat tutup buku per 31 Desember 2018 dalam kondisi keuangan sebagai berikut:

  1. Stock meubel 15 set seharga Rp 35.000.000,-
  2. Uang tunai/bank Rp 20.000.000,-
  3. Piutang Rp 5.000.000,-
    ————————————————–
    Jumlah Rp 60.000.000,-
  4. Utang dan pajak Rp (5.000.000)
    ————————————————–
    Saldo Rp 55.000.000,-

Besar zakat yang harus dibayarkan:
2,5% x Rp 55.000.000,- = Rp 1.375.000,-

Sumber : nucare.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *