Zakat sebagai Instrumen SDGs

lazisnusragen.org | ditulis oleh : hadi  | Senin, 11 Maret 2019 / ٤ رجب ١٤٤٠

Program SDGs dalam Maqasid al Syari’ah.

Pada tahun 2015, Indonesia bersama 192 negara lain dalam sidang PBB telah resmi menyetujui agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam sidang tersebut, agenda SDGs dimulai sejak tahun 2015 sampai tahun 2030 dengan 17 tujuan, 169 target dan 241 indikator. SDGs diberlakukan dengan memerhatikan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk menyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan atau no-one left behind.

Upaya mengaitkan zakat untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sudah selayaknya digalakan. Berbagai program terkait donasi dan pendistribusian dapat dikelola dengan menyinergikan pada salah satu dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Skema donasi dapat beragam dan berkembang, dapat berupa jasa, partisipasi sosial, dan sebagainya. Begitu pula program pendistribusian bantuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, tidak terbatas saja pada sektor tertentu, namun dapat dikembangakan lebih luas.

Sebelumnya perlu diketahui pemahaman di masyarakat umum terkait agenda SDGs. Masih ada yang beranggapan bahwa SDGs merupakan program asing (PBB) dan akan hanya menguntungkan pihak asing tanpa melibatkan kepentingan Indonesia, dalam artian melaksanakan program SDGs berarti menambah beban biaya pengeluaran atau sumber daya baru. Pemahaman tersebut terjadi karena minimnya kesadaran masyarakat untuk turut dalam ketertiban dunia dan berpacu dalam penyerataan kesejahteraan global.

Pada rapat evaluasi agenda Millennium Development Goals (MDGs), Indonesia telah tertinggal 8-10 tahun dari negara-negara berkembang lainnya. Untuk itu, gerakan zakat sebagai instrumen SDGs harus digalakkan dengan sinkronisasi di arena global.

Zakat sebagai bagian dari filantropi masyarakat, khususnya muslim, dinilai dapat menjadi salah satu instrumen yang menjadi sumber pendanaan bagi tercapainya SDGs. Hal ini dapat kita lihat dari sumber daya dan potensi donasi. Faktanya, meskipun hadir kompetitor, namun angka pendapatan donasi dari berbagai elemen masyarakat tidak menurun. Dari sini, Energy of Zakat: Berkhidmat Membangun Arus Baru Ekonomi Umat sebagai tagline yang diusung oleh NU Care-LAZISNU pada Rakornas 2019 menunjukkan potensinya yang tidak dapat dianggap sepele dan harus diolah dengan profesional dan modern.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan dasar tuntunan antara zakat dan SDGs, keduanya sama-sama mengedepankan perbaikan sosial dan kemashlahatan umat. SDGs banyak berbicara soal pengurangan kemsikinan dan kelaparan serta mengurangi kesenjangan dengan pembagian kekayaan. Tujuan-tujuan ini sejalan dengan prinsip- prinsip zakat. Dalam Islam sendiri, terdapat lima tujuan mendasar yang juga dikenal sebagai Maqasid al Syari’ah yang meliputi perlindungan keyakinan (hifdhul iman), kehidupan (hifdun nafs), keturunan (hifdhun nasl), akal (hifdhul ‘aqal) dan kekayaan (hifdhul maal). Kelima tujuan ini jika dijabarkan lebih lanjut akan beririsan dengan tujuan-tujuan pada SDGs.

Artikel ini disarikan dari Outlook NU Care-LAZISNU 2019, Energy of Zakat: Berkhidmat Membangun Arus Baru Ekonomi Umat

Sumber : Nucare.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *