SEBUTIR BENIH YANG TUMBUH DAN BERLIPATGANDA

“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh [2]: 261)

sedekah 9

Harta dengan segala bentuk dan jenisnya sesungguhnya adalah milik Alloh . Manusia memilikinya karena diberikan oleh-Nya sebagai nikmat, amanah, sekaligus ujian. Dengan harta, Alloh  menguji hamba-hamba-Nya, siapakah diantara mereka yang menggunakannya dengan baik dan siapa pula yang menyia-nyiakan dan menyimpangkannya.

Alloh  berfirman:

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian (bagi kalian), dan di sisi Alloh-lah pahala yang besar”. (QS. At-Taghobun [64]: 15)

Diantara manusia ada yang menggunakan harta dengan membelanjakannya hanya sekedar memperturutkan hawa nafsu, sehingga tak jarang mereka terjatuh pada hal-hal yang diharamkan. Harta yang dimiliki hanya menjadikan mereka semakin jauh dari Alloh . Mereka ini adalah orang-orang yang merugi  dan celaka. Dititipi harta tapi tak pandai bersyukur. Diberi karunia tapi malah semakin kufur.

Diantara manusia ada pula yang membelanjakan hartanya semata-mata mengharapkan ridho Alloh . Mereka mengerti bahwa harta yang saat ini di tangan mereka hakikatnya adalah milik Alloh . Ada dalam genggaman mereka hanyalah untuk sementara waktu.

Mereka menjadi hamba yang pandai bersyukur, dan mewujudkan rasa syukur kepada-Nya dengan benar. Mereka akan selalu membelanjakan harta sesuai dengan aturan-Nya. Untuk apa harta itu akan digunakan, dan apa saja yang akan dibeli dengannya, selalu diukur dengan timbangan syariah-Nya. Dengan demikian harta yang mereka miliki itu semakin menambah kedekatan mereka kepada Alloh . Mereka inilah orang-orang yang beruntung dan bahagia, yang akan meraih janji Alloh berupa pahala terbaik di surga-Nya kelak atas seluruh kesabaran mereka dalam beramal selama di dunia ini.

Sedekah Adalah Bukti Iman

Salah satu bentuk pembelanjaan harta yang sangat mulia dan bahkan menjadi bukti keimanan seseorang kepada Alloh  adalah dengan berinfak atau bersedekah.

Rosululloh  bersabda:

 ((اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ، وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ اْلمِيْزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآنِ -أَوْ تَمْلأُ- مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ. كُلُّ النَّاسِ يَغْدُوْ فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا)) 

Suci adalah sebagian dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan(di akhirat), Subhanalloh dan Alhamdulillah dapat memenuhi sepenuh langit dan bumi, sholat adalah cahaya, sedekah adalah bukti keimanan, sabar adalah pelita, dan Al-Qur’an menjadi hujjah yang dapat menolongmu atau sebaliknya mencelakakanmu. Setiap orang pada waktu pagi menjual dirinya (dengan mentaati Alloh), kemudian ada yang membebaskan dirinya (dari adzab) dan ada pula yang membinasakannya.” (HR. Muslim).

Seorang mu’min sangat yakin dengan janji Alloh , dimana Dia akan memberi ganti atas amal hamba-Nya dengan yang lebih baik.

Alloh  berfirman:

“Apa saja yang kalian infakkan, maka Alloh pasti akan menggantinya. Dia-lah pemberi rizki yang terbaik”. (QS. Saba’ [34]: 39)

Rosululloh  bersabda:

((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ))

“Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim)

((مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا))

 “Pada setiap pagi ada dua malaikat yang turun kepada seorang hamba. Salah seorang dari mereka berdo’a: ‘Ya Alloh, berilah ganti kepada orang yang berinfak’. Yang lainnya berdoa: ‘Ya Alloh, berilah kebinasaan kepada orang yang enggan berinfak’. (Muttafaq ‘alaih)

Balasan Pahala Berlipat Ganda

Terkait ayat dalam Surat Al-Baqoroh [2]: 261 diatas, Imam Ibnu Katsir  menjelaskan bahwa Alloh  memberikan perumpamaan berupa balasan pahala berlipat ganda bagi orang yang berinfak di jalan-Nya dan mengharapkan ridho-Nya.

Pengaruh bagi keimanan seorang hamba yang mentadabburinya tentunya sangatlah besar, dimana pada ayat tersebut Alloh  memberi perumpamaan dengan: “sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir terdapat seratus biji”. Tujuh ratus kali lipat…!! Sebuah ganjaran pahala yang sangat besar. Jika seorang mu’min tidak merasa tergerak dan tersentuh dengan janji-Nya ini, sungguh ada masalah dalam keimanannya yang harus segera ia perbaiki.

Demikianlah Alloh  membalas amal sholih hamba-hamba-Nya yang mu’min, dimana amal mereka dilipatgandakan, menjadi tumbuh dan berkembang, seperti halnya Alloh  menumbuhkan benih yang ditanam oleh seseorang di tanah yang baik. Benih itu akan tumbuh subur dan terus berkembang sampai pada fase untuk dapat dipetik hasilnya oleh sang penanamnya.

Alloh  tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Dia-lah Asy-Syakur (Yang Maha Mensyukuri), dimana Dia membalas amal hamba-Nya sekecil apapun dengan pahala yang sangat besar.

Ayat tersebut juga merupakan penjelasan bagi ayat sebelumnya, dimana Alloh  berfirman:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Alloh dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Alloh), pasti Alloh akan melipatgandakan balasan kepadanya dengan lipat ganda yang banyak”. (QS. Al-Baqoroh [2]: 245)

Alloh  juga berfirman pada ayat yang lain:

sedekah 8

“Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…” (QS. Al-Baqoroh [2]: 276)

Alloh  menyuburkan harta yang dikeluarkan oleh seorang hamba berupa infak atau sedekah dengan menumbuhkan harta tersebut menjadi berlipat ganda, memberikan keberkahan yang banyak padanya sehingga berbuah manfaat yang optimal bagi pemiliknya, dan memberikan balasan pahala yang besar dan berlipat ganda kepada pelakunya.

Rosululloh  bersabda:

((مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ – وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ – فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِاَ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيْلَهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ))

“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik -dan Alloh tidak akan menerima kecuali yang baik- maka Alloh akan menerima dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkan untuk pemiliknya (yang berinfak) sebagaimana salah seorang kalian mengembangbiakkan anak kuda atau anak untanya, sampai harta itu menjadi sepenuh bukit”. (HR. Bukhori)

Seluruh ayat maupun hadits tersebut menunjukkan dengan sangat jelas akan keagungan amal sholih berupa infak atau sedekah, dimana kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang berinfak sangat banyak. Selain beberapa manfaat yang telah disebutkan diatas, juga diantaranya; infak dapat menghapus dosa, sebagaimana Rosululloh  bersabda:

((وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ))

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api”. (HR. Tirmidzi)

Selain itu, di hari kiamat kelak tatkala matahari didekatkan dengan jarak yang sangat dekat diatas kepala manusia, dengan kondisi yang sangat panas, maka infak/ sedekah akan menjadi naungan bagi orang yang mengamalkannya.

Rosululloh  bersabda:

 ((كُلُّ امْرِىءٍ فِيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ))

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari kiamat) sampai selesai diadilinya seluruh manusia” (HR. Ahmad)

((إِنَّ ظِلِّ اْلُمؤْمِنِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ))

“Sesungguhnya naungan bagi seorang mu’min pada hari kiamat adalah sedekahnya”. (HR. Ahmad)

Dalam kesempatan lain, beliau  juga memberi kabar gembira kepada 7 golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Alloh  di hari kiamat, salah satunya adalah:

((وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ))

“Seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikan sedekahnya itu, sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. (Muttafaq ‘alaih)

Saudaraku kaum muslimin… sesungguhnya masih sangat banyak limpahan ganjaran kebaikan yang akan Alloh berikan kepada hamba-hamba-Nya yang gemar berinfak, baik di dunia maupun di akhirat. Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut kiranya dapat menjadi pendorong semangat kita dalam mengamalkannya. Semoga Alloh    menerima amal-amal sholih kita, amiin…

Penulis : Ali Maulida

NU Care-LAZISNU Sragen Implementasikan Program Bedah Rumah Ibadah


Penyerahan satu set pengeras suara oleh tim NU Care-LAZISNU Sragen kepada takmir Masjid Darun Najah di Karangmalang, Sragen, pada Rabu (29/05/2019).

Sragen, NU Care

NU Care-LAZISNU Sragen kembali merealisasikan program Ramadhan 1440 H, dengan tema nasional Ramadhan Berbagi Satukan Negeri.

Selain pentasarufan program seperti santunan dan buka bersama yatim, kali ini NU Care-LAZISNU Sragen mengimplementasikan satu dari sembilan program Ramadhan, yakni Bedah Rumah Ibadah (Berubah). Demikian disampaikan Ketua NU Care-LAZISNU Sragen, Suranto.

“Pentasarufan ini merupakan implementasi dari program Berubah (Bedah Rumah Ibadah) yang ada di NU Care-LAZISNU Sragen, maupun NU Care-LAZISNU secara nasional, sebagai bentuk kepedulian terhadap masjid atau mushola yang selama ini belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat,” jelasnya, via pesan WhatsApp, pada Rabu (29/05) malam.

Bantuan berupa satu set pengeras suara disalurkan ke Masjid Darun Najah, di Dukuh  Sumbermulyo, Kedungwaduk, Karangmalang.

Takmir Masjid Darun Najah, Imam, mengatakan masjid tersebut dibangun dari dana sumbangan warga setempat.

“Kami bangun masjid ini dengan gotong royong. Belum ada bantuan dari pemerintah. Bahkan, makanan untuk tukang pun apa adanya, dari sumbangan warga. Jadi untuk membeli pengeras suara pun kami kesulitan,” ungkap Imam.

Suranto menambahkan, masyarakat setempat mengapresiasi langkah NU Care-LAZISNU Sragen yang mulai memerhatikan kenyamanan rumah ibadah yang merupakan sentral kekuatan umat Islam yang sekarang ini mulai dikuasai orang-orang yang justru kerap  memojokkan NU.

“Terima kasih NU Sragen. Semoga program ini berkelanjutan dan mendapat dukungan dari masyarakat Sragen, terutama dari para muzaki atau munfiq (orang yang berinfaq),” kata salah seorang warga. [Haris]

Zakat Perusahaan, Perdagangan dan Jasa


Ilustrasi oleh Fuad Hasim

Hukum mengeluarkan zakat adalah wajib, berdasarkan al-Qurān, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Allah SWT berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah sholat, serta tunaikanlah zakat, serta sujudlah kamu bersama-sama dengan orang yang menjalankan.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Di dalam Tafsir Ibnu Al-Thabary, ayat ini mendapatkan dukungan riwayat tafsir dari Qatadah radliyallahu ‘anhu:

كما حُدِّثت عن عمار بن الحسن، قال: حدّثنا ابن أبي جعفر، عن أبيه، عن قتادة، في قوله قال: فريضتان واجبتان، فأدُّوهما إلى الله

Ammar bin al-Hasan berkata: Abu Ja’far berkata: dari bapaknya, dari Qatadah dalam menjelaskan maksud ayat dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Qatadah berkata: “Keduanya adalah amal wajib. Maka tunaikan keduanya untuk hak Allah!” (Lihat Muhammad Ibnu Jarir At-Thabary, Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, [Kairo: Dār al-Ma’ārif, tt], juz I, 573)

Ada dua jenis zakat dalam Islam, yaitu Zakat Fitrah dan Zakat Maal. Zakat perusahaan, perdagangan dan jasa masuk dalam kategori Zakat Maal. Definisi Zakat Maal sendiri dalam al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Juz 4, hal. 2875, al-māl sebagai berikut:

كل مايقتنى ويحوزه الإنسان بالفعل سواء أكان عيناً أم منفعة، كذهب أو فضة أو حيوان أو نبات أو منافع الشيء كالركوب واللبس والسكنى

“Segala sesuatu yang dapat mendatangkan ketenangan, dan bisa dikuasai oleh manusia dengan suatu usaha (fi’il), baik sesuatu itu berupa dzat (materi) maupun berupa manfaat, seperti emas, perak, hewan, tumbuhan atau manfaaat suatu aset, seperti kendaraan, pakaian, dan tempat tinggal.” (Al-Zuhaily, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Juz, Maktabah Syamilah, hal. 40 )

Berdasarkan definisi di atas, suatu barang disebut sebagai al-maāl, jika memenuhi dua kriteria;

  1. Sesuatu itu harus bisa memenuhi kebutuhan manusia, hingga pada akhirnya bisa mendatangkan kepuasan dan ketenangan atas terpenuhinya kebutuhan tersebut, baik bersifat materi atau immateri
  2. Sesuatu itu harus berada dalam genggaman kepemilikan manusia. Konsekuensinya, jika tidak bisa atau belum dimiliki, maka tidak bisa dikatakan sebagai harta. Misalnya, burung yang terbang diangkasa, ikan yang berada di lautan, bahan tambang yang berada di perut bumi, dan lainnya.

Terdapat beberapa syarat harta yang wajib dizakati, antara lain:

1. Telah mencapai nishab
2. Merupakan hak milik secara sempurna
3. Telah mencapai satu tahun (haul) dalam pengelolaan
4. Terdiri atas harta yang berkembang (maal mustafad)
5. Melebihi kebutuhan pokok
6. Terbebas dari hutang

Adapun syarat dari zakat perdagangan/perniagaan (‘arudl al-tijārah) adalah sebagai berikut:

  • Muzakki (orang yang berzakat) harus menjadi pemilik komoditas yang diperjualbelikan, baik kepemilikannya itu diperoleh dari hasil usaha dagang maupun tidak, seperti kepemilikan yang didapat dari warisan dan hadiah.
  • Muzakki berniat untuk memperdagangkan komoditas tersebut.
  • Harta zakat mencapai nisab setelah dikurangi biaya operasional, kebutuhan primer, dan membayar utang.
  • Kepemilikan telah melewati masa satu tahun penuh.

Para ulama kontemporer menganalogikan zakat perusahaan dengan zakat perniagaan. Sebab, bila dilihat dari aspek legal dan ekonomi (entitas), aktivitas sebuah perusahaan pada umumnya berporos pada kegiatan perdagangan. Dengan demikian, setiap perusahaan di bidang barang maupun jasa dapat menjadi objek wajib zakat.

Jenis Harta dan Ketentuan Wajib Zakat
(sesuai Instruksi Menteri Agama RI, nomor 5 Tahun 1991)

1. Industri seperti semen, pupuk, tekstil, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

2. Usaha perhotelan, hiburan, restoran dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

3. Perdagangan ekspor, kontraktor, real estate, percetakan / supermarket, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

4. Jasa; konsultan, notaris, komisioner, travel biro, salon, trasportasi, perdagangan, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

5. Pendapatan gaji, honorarium jasa produksi lembur, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

6. Usaha perkebunan, perikanan dan peternakan besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

7. Uang simpanan, Deposito, Tabanas, Taska, Simpeda, Simaskot, Tahapan, Giro, dan lain sebagainya besaran nisabnya senilai 91,92 gram emas murni. Kadar zakatnya 2,5% dan waktu zakatnya tiap tahun. Menurut mazhab Hanafi, nisabnya senilai 107,76 gram. Menurut Yusuf al Qordlawi nisabnya senilai 85 gram.

Tabel Ketentuan Wajib Zakat Maal oleh NU Care LAZISNU

Contoh Penghitungan Zakat

Sebuah perusahaan meubel pada saat tutup buku per 31 Desember 2018 dalam kondisi keuangan sebagai berikut:

  1. Stock meubel 15 set seharga Rp 35.000.000,-
  2. Uang tunai/bank Rp 20.000.000,-
  3. Piutang Rp 5.000.000,-
    ————————————————–
    Jumlah Rp 60.000.000,-
  4. Utang dan pajak Rp (5.000.000)
    ————————————————–
    Saldo Rp 55.000.000,-

Besar zakat yang harus dibayarkan:
2,5% x Rp 55.000.000,- = Rp 1.375.000,-

Sumber : nucare.id

Kapan Zakat Fitrah Dilaksanakan dan Bagaimana Hukumnya..?


Ilustrasi oleh: Jaliel

Menurut syara’, zakat fitrah adalah:

صدقةٌ مُقدَّرة عن كلِّ مسلمٍ قبل صلاةِ عِيدِ الفِطر في مصارِفَ معيَّنة

“Pemberian yang ditentukan kadarnya dan berlaku atas setiap individu muslim dan ditunaikan sebelum sholat idul fitri dan ditasharufkan menurut cara-cara yang telah ditentukan.” (Al-Nawawi dalam al-Majmu’: 6/103, al-Bahuty dalam Kasyāfu al-Qina’: 2/245)

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan zakat fitrah adalah:

  1. Shadaqah wajib yang telah ditentukan kadarnya.
  2. Kewajiban mengeluarkan adalah mencakup setiap individu muslim yang menemui tenggelamnya matahari di akhir bulan ramadhan.
  3. Batas waktu pembayaran zakat fitrah adalah sebelum sholat idul fitri.
  4. Zakat hanya bisa ditasharufkan menurut cara tertentu yang telah diatur oleh syara’, yaitu wajib diberikan kepada delapan ashnaf penerima zakat atau mustahik.

Zakat fitrah wajib dikeluarkan sebab tiga perkara, yakni beragama Islam, menemui akhir matahari terbenam dari bulan Ramadhan, dan karena memiliki kelebihan bahan pokok makanan untuk diri dan keluarga yang wajib dinafkahi pada Hari Raya Idul Fitri.

Adapun waktu pelaksanaan zakat fitrah dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Waktu yang dibolehkan, yaitu dari awal Ramadhan sampai hari penghabisan Ramadhan.
  2. Waktu wajib, yaitu terbenam matahari penghabisan Ramadhan.
  3. Waktu yang lebih baik (sunah), yaitu dibayar sesuadah shalat subuh sebelum pergi sholat Hari Raya Idul Fitri.
  4. Waktu makruh, yaitu membayar zakat fitrah sesudah sholat Hari Raya tetapi sebelum terbenam matahari.
  5. Waktu haram, lebih terlambat lagi yaitu dibayar sesudah terbenam matahari pada Hari Raya.

Sumber :

Bolehkah Zakat menggunakan Uang.?

Design :NUCare.id

Ada khilafiyah di kalangan fuqaha dalam masalah penunaian zakat fitrah dengan uang.

Pertama, pendapat yang membolehkan. Ini adalah pendapat sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Tsauri, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. (As-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/107; Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, XXV/83).

Dalil mereka antara lain firman Allah SWT , “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” (QS at-Taubah [9] : 103).

Menurut mereka, ayat ini menunjukkan zakat asalnya diambil dari harta (maal), yaitu apa yang dimiliki berupa emas dan perak (termasuk uang). Jadi ayat ini membolehkan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang. (Rabi’ Ahmad Sayyid, Tadzkir al-Anam bi Wujub Ikhraj Zakat al-Fithr Tha’am, hal. 4).

Mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi SAW, “Cukupilah mereka (kaum fakir dan miskin) dari meminta-minta pada hari seperti ini (Idul Fitri).” (HR Daruquthni dan Baihaqi).

Menurut mereka, memberi kecukupan (ighna`) kepada fakir dan miskin dalam zakat fitrah dapat terwujud dengan memberikan uang. (Abdullah Al-Ghafili, Hukm Ikhraj al-Qimah fi Zakat al-Fithr, hal. 3).

Kedua, pendapat yang tidak membolehkan dan mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok (ghalib quut al-balad). Ini adalah pendapat jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. (Al-Mudawwanah al-Kubra, I/392; Al-Majmu’, VI/112; Al-Mughni, IV/295)

Karena ada dua pendapat yang berbeda, maka kita harus bijak dalam menyikapinya. Ulama sekaliber Imam Syafi’i, mujtahid yang sangat andal saja berkomentar tentang pendapatnya dengan mengatakan, “Bisa jadi pendapatku benar, tapi bukan tak mungkin di dalamnya mengandung kekeliruan. Bisa jadi pendapat orang lain salah, tapi bukan tak mungkin di dalamnya juga mengandung kebenaran.”

Dalam masalah ini, sebagai orang awam (kebanyakan), kita boleh bertaqlid (mengikuti salah satu mazhab yang menjadi panutan dan diterima oleh umat). Allah tidak membebani kita di luar batas kemampuan yang kita miliki. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”  (Al-Baqarah [2]: 286).

Sesungguhnya masalah membayar zakat fitrah dengan uang sudah menjadi perbincangan para ulama salaf, bukan hanya terjadi akhir-akhir ini saja. Imam Abu Hanifah, Hasan Al-Bisri, Sufyan Ats-Tsauri, bahkan Umar bin Abdul Aziz sudah membincangkannya, mereka termasuk orang-orang yang menyetujuinya. Ulama hadis seperti Bukhari ikut pula menyetujuinya, dengan dalil dan argumentasi yang logis serta dapat diterima.

Menurut kami, membayar zakat fitrah dengan uang itu boleh, bahkan dalam keadaan tertentu lebih utama. Bisa jadi pada saat Idul Fitri jumlah makanan (beras) yang dimiliki para fakir miskin jumlahnya berlebihan. Karena itu, mereka menjualnya untuk kepentingan yang lain. Dengan membayarkan menggunakan uang, mereka tidak perlu repot-repot menjualnya kembali yang justru nilainya menjadi lebih rendah. Dan dengan uang itu pula, mereka dapat membelanjakannya sebagian untuk makanan, selebihnya untuk pakaian dan keperluan lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber

Anjuran Sedekah bagi yang meninggalkan Sholat Jum’at

ilustrasi oleh : Fuad Hasim

Oleh: Ustadz Hengky Ferdiansyah, Lc., MA

Salat Jumat diwajibkan bagi seluruh laki-laki yang beragama Islam tanpa pengecualian. Salat Jumat boleh ditinggalkan dan diganti dengan salat dzuhur bila ada uzur, seperti musafir, sakit, dan lain-lain. Kewajiban salat Jumat ini didasarkan pada firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

 “Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( Al-Jumu`ah : 9)

Selain ayat di atas, ada banyak hadis yang berisi ancaman bagi orang yang meninggalkan salat Jumat. Adanya ancaman ini menguatkan kewajiban salat Jumat bagi laki-laki. Di antara hadis larangan meninggalkan salat Jumat ialah:

لَيَنتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الجُمُعَةَ أَوْ لَيَخْتَمَنَّ الله عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ الغَافِلِيْنَ

“Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain dijelaskan:

مَنْ تَرَكَ َثلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طبَعَ الله عَلىَ قَلْبِهِ

“Orang yang meninggalkan tiga kali salat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Daud)

Orang yang meninggalkan salat Jumat lebih dari tiga kali, maka Allah akan menutup pintu hatinya. Dalam riwayat lain diterangkan, orang yang meninggalkan salat Jumat termasuk orang munafik. Sebab itu, bagi laki-laki balig seyogianya tidak meninggalkan salat Jumat dan selalu berusaha untuk mengerjakan salat Jumat, kecuali bila ada udur atau situasi darurat yang menyebabkan tidak bisa salat Jumat.

Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam Nurul Lum’ah fi Khashaish Jum’ah menjelaskan, bagi orang yang meninggalkan salat Jumat secara sengaja, dianjurkan untuk bersedekah satu dinar. Kalau tidak mampu satu dinar, dianjurkan setengah dinar. Pendapat al-Suyuthi ini merujuk pada hadis riwayat Samrah bin Jandab bahwa Rasulullah SAW berkata, “Siapa yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa udzur hendaklah dia bersedekah satu dinar, kalau tidak mampu satu dinar bersedekahlah setengah dinar.” (HR: Abu Daud).

Sumber : 

Hikmah Zakat (1)

Sebagai salah satu rukun Islam, zakat merupakan satu objek ladang ibadah yang sangat penting di kalangan individu muslim. Ada banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Di dalam pokok bahasan ini, akan disajikan sebagian dari hikmah zakat yang berhasil dihimpun berdasarkan hasil penelusuran dalil nash dan sejumlah pendapat ulama. Namun, tentunya masih ada banyak hikmah lain yang bisa ditemui. Untuk itu, hikmah-hikmah berikut setidaknya mampu mewakili dari berbagai hikmah yang belum sempat dihimpun.

1. Mendatangkan Hidayah dalam Segala Urusan

Zakat dapat mendatangkan hidayah atau petunjuk dari Allah Swt, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ    

 Artinya: “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (pada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharap termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah ayat 18)

Merujuk Tafsir Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi, dengan ayat ini Allah Swt menjelaskan bahwa para pembayar zakat dapat berharap mendapat hidayah dalam segala urusan mereka. (Al-Fakhrur Razi, Tafsir Al-Fakhrur Razi, [Beirut, Dar Ihya`it Turats al-’Arabi, tanpa catatan tahun], juz I, halaman 2189)

2. Dimasukkan ke Surga

Dengan membayar zakat seseorang dijanjikan pahala yang sangat besar yaitu masuk ke surga, sesuai firman Allah Swt:

لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا 

Artinya: “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur`an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (An-Nisa` ayat 162)

Maksud pahala besar dalam ayat tersebut adalah jaminan surga bagi orang yang patuh membayar zakat, sebagaimana hal ini pernah dijanjikan oleh Allah Swt kepada Bani Israil. Demikian penjelasan Imam At-Thabari dalam kitab tafsirnya. (Lihat At-Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, [Muassisatur Risalah, 2000 M], juz IX, halaman 399)

3. Mendatangkan Ampunan

Membayar zakat juga berguna untuk mendatangkan ampunan dari Allah Swt atas berbagai kesalahan yang telah dilakukan, seperti disebutkan dalam Al-Qur`an:

 لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآَتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ 

Artinya: “Sesungguhnya jika kalian mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-RasulKu, kalian bantu mereka dan kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sungguh Aku akan melebur dosa-dosa kalian, dan sungguh kalian akan Kumasukkan ke surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai.” (Al-Ma`idah ayat 12)

Dengan ayat ini, Allah Swt menjanjikan ampunan dari berbagi dosa bagi orang yang membayar zakat sekaligus menjanjikan jaminan surga sebagaimana ayat sebelumnya. (Lihat Abul ‘Abbas Al-Fasi, Al-Bahrul Madid, [Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiah, 2002 M], juz IX, halaman 399)

4. Mendatangkan Rahmat dan Kasih Sayang Allah Swt

Zakat juga akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah Swt kepada yang menunaikannya, sebagaimana difirmankan:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

Artinya, “Dan dirikan shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat.” (An-Nur ayat 56).

5. Mendatangkan Keberkahan

Menjadikan hartanya berkah, berkembang semakin baik dan banyak, seperti dijelaskan dalam hadis Rasulullah Saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ  قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw, ia bersabda, ‘Sedekah (zakat) tidak akan mengurangi harta, tidaklah Allah menambah seorang hamba sebab pengampunannya (bagi orang lain) kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah angkat derajatnya,’”  (HR Muslim).

Di dalam hadis ini, beliau Rasulillah Saw menegaskan bahwa zakat seseorang tidak akan mengurangi harta sedikit pun. Artinya, meskipun harta seseorang berkurang karena digunakan membayar zakat, namun setelah dizakati hartanya akan menjadi penuh berkah dan bertambah banyak. Imam al-Nawawi menyampaikan dalam Kitab Syarh an-Nawawi ala Muslim sebagai berikut:

ذكروا فيه وجهين احدهما معناه أنه يبارك فيه ويدفع عنه المضرات فينجبر نقص الصورة بالبركة الخفية وهذا مدرك بالحس والعادة والثاني أنه وإن نقصت صورته كان في الثواب المرتب عليه جبر لنقصه وزيادة إلى أضعاف كثيرة

“Di dalam hadis di atas, ulama menyebutkan dua sisi. Satu, hartanya akan diberkahi, dijauhkan dari bahaya-bahaya kemudian kekurangan hartanya ditutupi dengan berkah yang samar. Hal ini terlihat nyata dan terbukti secara adat. Kedua, meskipun kelihatannya berkurang sebab dizakatkan, namun hartanya berada di dalam pahala yang akan menutupi kekurangan hartanya tersebut dan akan mendatangkan tambahan lipat ganda.”(an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, Beirut, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, cetakan kedua, 2003, jilid XVI halaman 141)

Artikel ini dikutip dari Modul Madrasah Amil NU Care-LAZISNU

Sumber : NUcare.id

Zakat sebagai Instrumen SDGs

lazisnusragen.org | ditulis oleh : hadi  | Senin, 11 Maret 2019 / ٤ رجب ١٤٤٠

Program SDGs dalam Maqasid al Syari’ah.

Pada tahun 2015, Indonesia bersama 192 negara lain dalam sidang PBB telah resmi menyetujui agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam sidang tersebut, agenda SDGs dimulai sejak tahun 2015 sampai tahun 2030 dengan 17 tujuan, 169 target dan 241 indikator. SDGs diberlakukan dengan memerhatikan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk menyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan atau no-one left behind.

Upaya mengaitkan zakat untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sudah selayaknya digalakan. Berbagai program terkait donasi dan pendistribusian dapat dikelola dengan menyinergikan pada salah satu dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Skema donasi dapat beragam dan berkembang, dapat berupa jasa, partisipasi sosial, dan sebagainya. Begitu pula program pendistribusian bantuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, tidak terbatas saja pada sektor tertentu, namun dapat dikembangakan lebih luas.

Sebelumnya perlu diketahui pemahaman di masyarakat umum terkait agenda SDGs. Masih ada yang beranggapan bahwa SDGs merupakan program asing (PBB) dan akan hanya menguntungkan pihak asing tanpa melibatkan kepentingan Indonesia, dalam artian melaksanakan program SDGs berarti menambah beban biaya pengeluaran atau sumber daya baru. Pemahaman tersebut terjadi karena minimnya kesadaran masyarakat untuk turut dalam ketertiban dunia dan berpacu dalam penyerataan kesejahteraan global.

Pada rapat evaluasi agenda Millennium Development Goals (MDGs), Indonesia telah tertinggal 8-10 tahun dari negara-negara berkembang lainnya. Untuk itu, gerakan zakat sebagai instrumen SDGs harus digalakkan dengan sinkronisasi di arena global.

Zakat sebagai bagian dari filantropi masyarakat, khususnya muslim, dinilai dapat menjadi salah satu instrumen yang menjadi sumber pendanaan bagi tercapainya SDGs. Hal ini dapat kita lihat dari sumber daya dan potensi donasi. Faktanya, meskipun hadir kompetitor, namun angka pendapatan donasi dari berbagai elemen masyarakat tidak menurun. Dari sini, Energy of Zakat: Berkhidmat Membangun Arus Baru Ekonomi Umat sebagai tagline yang diusung oleh NU Care-LAZISNU pada Rakornas 2019 menunjukkan potensinya yang tidak dapat dianggap sepele dan harus diolah dengan profesional dan modern.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan dasar tuntunan antara zakat dan SDGs, keduanya sama-sama mengedepankan perbaikan sosial dan kemashlahatan umat. SDGs banyak berbicara soal pengurangan kemsikinan dan kelaparan serta mengurangi kesenjangan dengan pembagian kekayaan. Tujuan-tujuan ini sejalan dengan prinsip- prinsip zakat. Dalam Islam sendiri, terdapat lima tujuan mendasar yang juga dikenal sebagai Maqasid al Syari’ah yang meliputi perlindungan keyakinan (hifdhul iman), kehidupan (hifdun nafs), keturunan (hifdhun nasl), akal (hifdhul ‘aqal) dan kekayaan (hifdhul maal). Kelima tujuan ini jika dijabarkan lebih lanjut akan beririsan dengan tujuan-tujuan pada SDGs.

Artikel ini disarikan dari Outlook NU Care-LAZISNU 2019, Energy of Zakat: Berkhidmat Membangun Arus Baru Ekonomi Umat

Sumber : Nucare.id

Tujuh Etika Menunaikan Zakat

oleh: Ahmad Muntaha AM*

Selain mengetahui berbagai hukum zakat, hendaknya seorang muzaki  (orang yang hendak membayar zakat) juga memperhatikan berbagai etikanya, sehingga pembayaran zakatnya diterima dan diridhai Allah SWT. Lalu apa saja etika membayar zakat yang harus diperhatikannya?

1. Segera Membayar Zakat Setelah Waktu Wajibnya Tiba
Ini dilakukan karena beberapa pertimbangan, yaitu: a) menampakkan rasa senang menaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya; b) membahagiakan orang yang menerimanya; c) sadar bahwa kalau ditunda bisa saja ada hal lain yang menghalanginya; dan d) menjadi maksiat apabila sampai habis waktunya zakat belum jadi dikeluarkan.

2. Merahasiakan Pembayaran Zakat 
Merahasiakan zakat lebih dapat menghindarkan seseorang dari riya’ (pamer) dan sum’ah (mencari popularitas). Allah berfirman:
 

… وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ … (البقرة: 271

Artinya, “… Dan apabila kalian menyembunyikan (pembayaran) zakat dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagi kalian …” (Al-Baqarah ayat 271).

Bahkan segolongan ulama salaf secara sungguh-sungguh berupaya merahasikan zakatnya, yaitu dengan menyalurkannya lewat perantara, sehingga penerima zakat tidak mengetahui siapa pemberi sebenarnya. Hal itu dilakukan tidak lain karena menghindari sifat riya’ dan sum’ah. Sebab, ketika sifat riya’ mendominasi pembayaran zakat, maka ia akan meleburnya, meskipun secara fiqh zakatnya sah.

3. Membayar Zakat Secara Terang-terangan 
Allah SWT berfirman:
 

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ …

Artinya, “Jika kalian menampakkan zakat kalian, maka itu baik sekali …” (Al-Baqarah ayat 271).

Etika ini dilakukan ketika situasi dan kondisi mendukungnya. Yaitu ada kalanya agar ditiru atau karena ada seseorang yang meminta zakat secara terang-terangan di depan orang lain. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya muzaki tidak menghindar dari memberikan zakatnya dengan alasan khawatir riya’. Namun seharusnya ia tetap memberikan zakat serta menjaga hati dari riya’ semampunya. Sebab, dalam membayar zakat secara terang-terangan, selain terdapat riya’ dan al-mann (menyebut kebaikan), terdapat unsur yang tercela lain, yaitu menampakkan kefakiran orang lain. Karena terkadang seseorang merasa hina ketika dirinya terlihat membutuhkan.

Sebab itu, orang yang terang-terangan meminta, ia telah merusak rahasianya sendiri, dan unsur tercela (menampakkan kefakiran orang lain) yang ada dalam pembayaran zakat secara terang-terangan tadi sudah tidak berarti lagi.

4. Tidak Merusak Zakat 
Maksudnya tidak merusak zakat dengan al-mann dan al-adza. Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) zakat kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) …”  (Al-Baqarah ayat 264).

Al-Mann adalah menyebut-nyebut amal saleh (dalam hal ini zakat) dan menceritakannya, mengeksploitasi si penerimanya, atau takabur kepadanya karena zakat yang diberikan. Sementara al-adza adalah menampak-nampakkan zakat, mencela kefakiran, membentak-bentak, atau mencerca si penerima karena meminta-minta zakat kepadanya. 

5. Menganggap Zakatnya Sebagai Hal Kecil
Hendaknya orang yang membayar zakat menilai zakatnya sebagai hal kecil dan tidak membesar-besarkannya. Sebab bila dibesar-besarkan maka akan melahirkan sifat ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri). Padahal ‘ujubtermasuk perkara yang melebur amal. Allah berfirman:
 

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا … (التوبة: 25

Artinya, “Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian …” (At-Taubah ayat 25).

6. Zakat dengan Harta Terbaik
Mengeluarkan zakat dengan harta yang terbaik dan yang paling disukai. Sebab, Allah adalah Dzat Yang Maha Baik dan tidak menerima kecuali harta yang baik. Bila yang dikeluarkan bukan harta yang terbaik maka termasuk su’ul adab kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur`an disebutkan:
 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ … (البقرة: 267) 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian, dan janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kalian menafkahkan daripadanya, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata padanya.” (Al-Baqarah ayat 267).

7. Selektif Memilih Penerima Zakat
Yaitu dengan memprioritaskan orang-orang yang mempunyai sifat-sifat berikut ini; bertakwa, ahli ilmu agama, benar tauhidnya, merahasiakan dari membutuhkan zakat, punya keluarga, sedang sakit dan semisalnya, dan merupakan keluarga atau kerabat. (Jamaluddin Al-Qasimi, Mauizhatul Mu’minin, juz I, halaman 95-99).

Dengan memenuhi tujuh etika ini, harapannya zakat yang dilakukan dapat diterima dan diridhai Allah SWT, serta mendapatkan balasan pahala yang sangat sempurna.

*Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU Jawa Timur

Sumber

Warga Terdampak Banjir di Tasikmalaya, Banser Evakuasi dan Salurkan Bantuan Logistik

Banser Tasikmalaya dipimpin Sahabat Ketua PC Asep Muslim mengirim bantuan ke lokasi Pengungsian di Desa Bojongsari, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya.

Jakarta, NU Care

Pengurus Cabang Ansor-Banser dan warga Nahlatul Ulama di Kabupaten Tasikmalaya terus menyalurkan bantuan baik berupa barang dan tenaga untuk membantu warga terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (6/11).

Menurut laporan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, banjir terkonsentrasi di Desa Ciheras dan Ciandum Kecamatan Cipatujah, Desa Cikupa dan Ciawi Kecamatan Karangnuggal serta Desa Cikuya Kecamatan Culamega dengan tinggi  mencapai 1,80 meter.

Ketua PCNU Tasikmalaya, Atam Sukamanah mengatakan bahwa sekitar 100 orang warga NU telah turun ke lokasi kejadian sejak Selasa.

“Dari kemarin Banser sudah turun ke lokasi kejadi dan langsung membantu proses evakuasi,” kata Atam Sukamanah, seperti dilansir NU Online, Rabu (8/11).

Saat ini, bantuan berupa barang juga sedang dikirimkan ke sejumlah titik.

“Bantuan satu mobil penuh berupa tenda, baju-baju, selimut, makanan bayi dan barang lain,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua GP Ketua Ansor Tasikmalaya Asep Muslim mengatakan bahwa saat ini Banser Tasikmalaya sedang berupaya menembus kawasan yang terdampak banjir yang sedang terisolir. 

“Kami sedang menuju lokasi yang terisolir, di Kecamatan Suramega. Ada desa terdampak yang terisolir karena banyaknya pepohonan yang tumbang ke jalan sehingga tidak bisa dilewati kendaraan,” katanya.

Dia dan rekan-rekan Banser membawa bantuan berupa kebutuhan dasa seperti mie instan, perlengkapan bayi, dan kebutuhan lain. 

Selain memberikan bantuan, Banser Tasikmalaya juga melakukan pencatatan kebutuhan korban. Harapannya, bantuan yang diberikan akan tepat sasaran bagi yang membutuhkan.

Banser Tasikmalaya juga melakukan koordinasi dengan lembaga lain baik Tim SAR Kabupaten Tasikmalaya dan pemerintah setempat untuk menyuplai bantuan pada korban bencana. [Ahmad Rozali]

Sebab akses terputus, bantuan pun diangkat Banser dengan jalan kaki.